Welcome


widgeo.net

Selasa, 01 Januari 2019

Temenmu Nggak Kasih Like Post Foto Terbarumu di Instagram? Mungkin Dua Alasan ini Ada Benarnya.

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Haii mylov (duh, kenapa jadi ikut-ikutan alaynya admin mojok.co sih haha), alhamdulillah nih kita bisa ketemu lagi di blog yang buluk ini (cukup blog ini aja yang buluk, kamu jangan). Aku sangat mengapresiasi kalian yang udah menyempatkan waktunya buat baca kirimanku kali ini. Terima kasih yaa mylov :). Kali ini, aku bakalan share pendapat pribadiku nih, which is pada era milenial ini, media sosial merupakan salah satu hal yang kalo ditinggal bentar aja udah ketinggalan banyak hal penting, seperti info update sepakbola (baik tanah air maupun EPL, La Liga, Serie A, Bundesliga, Eredivisie, dll.), atau hanya sekadar liat Instastory temen, atau untuk nyimak thread-thread menarik dari para selebtwit a.k.a sobat misqueen, atau untuk bisnis, dan masih banyak lagi. 

    Nah, yang pengen kubahas kali ini adalah menyangkut fungsi media sosial untuk “upload foto”, entah pas kamu upload foto selfie-mu, upload foto bareng pasanganmu, dll. Di satu sisi, kalian mungkin pernah memperhatikan 2-3 teman (buat contoh ajaa, jadi gausah banyak-banyak) udah saling follow di Instagram, yang kalo pas di dunia nyata, kayaknya kamu merasa nggak punya masalah sama mereka. Masalahnya, pas kamu upload foto di Instagram, kok dia nggak kasih like di post fotomu? Apakah mereka diem-diem nggak suka sama kamu? Apa mereka udah nggak mau temenan sama kamu lagi? (Ah itu hanya perasaanmu aja Bambang!). Daripada kamu sibuk mengumbar ke-negative thinking-an-mu, berikut ini ada beberapa alasan positif yang bagus untuk diketahui:

1.  Kebetulan mereka lagi pengen mengurangi ketergantungan sama sosial media, karena dari semua sosial media, Instagram-lah yang punya impact paling gede.
       Ya memang ada benarnya uninstall Instagram untuk beberapa hari. Impact yang dimaksud di sini tu kayak jadi konsumtif, nyinyir, iri, dengki, dll gara-gara liatin post foto temen-temennya, atau Instastory temen-temennya yang pamer makan di tempat-tempat yang high class. Terlepas dari itu, mereka kan nggak bisa ngatur orang untuk nggak mem-posting hal-hal annoying itu tadi. Jadi, ada kemungkinan masing-masing dari mereka mengambil sikap “mending dari gue-nya aja yang ngurangin”. Jadi, masih ngambek gara-gara mereka nggak kasih like di foto-mu? Bisa aja mereka baru aja uninstall Instagram sehari sebelum kamu posting, ya kan?

2.  Kebetulan pas buka Facebook, mereka nemu foto di bawah ini.       
       Hari gini masih main Facebook? Jangan salah, di Facebook ternyata masih banyak yang membagi informasi dan hal-hal positif lainnya. Contohnya aja dari satu akun Facebook milik seorang dosen Fakultas Kedokteran di Universitas Mataram (terpampang di bio-nya beliau) bernama Raehanul Bahraen.

 

      
       Berangkat dari hal ini, mungkin setelah membacanya, mereka temen-temenmu mengambil sikap untuk nggak kasih like di foto-mu. Mengapa? Karena mereka punya anggapan “kalo aku like foto-mu, berarti aku secara nggak langsung ikut mendukungmu untuk terus upload foto wajah cantik atau gantengmu itu”. Kan semakin banyak like (biasanya disertai komen yang penuh pujian “Kak, cantiknya kok gak bagi-bagi sih, hmm”.), keinginan buat upload foto otomatis bakalan bertambah, dosa juga bakal nambah. Eh, tapi tergantung orangnya sih, kan orang beda-beda.

(Setelah kubaca-baca di beberapa artikel, foto ini berlaku juga buat kaum laki-laki, kamu bisa googling kalo gak percaya. So, be careful yaa bro).

      Nah, dua alasan di atas hanyalah upayaku untuk mengajak bro dan sis untuk membiasakan positive thinking. Apapun yang kamu upload, pasti ada yang suka dan ada yang nggak suka, karena mustahil untuk menyenangkan semua orang. Cukuplah bagi kita untuk selalu memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Yang paling penting di sini adalah kita nggak perlu merisaukan penilaian manusia, cuek aja. Caranya? Kamu bisa baca  postingan sebelumnya, yang judulnya Cuek?
     
     Kebenaran dari dua alasan di atas mungkin saja bisa benar adanya, tapi nggak menutup kemungkinan memang benar-benar terdapat masalah pribadi di antara kalian yang aku nggak tahu menahu apa masalahnya. Semoga cepet kelar yaa.
     
      Terakhir nih dari aku, please mylov, mulai saat ini, marilah masing-masing dari kita harus banyak-banyak belajar. Belajar apaan sih? Yaa belajar “apa yang membuat kita bahagia belum tentu membuat orang lain bahagia juga”. I think it’s enough. Terima kasih kuucapkan buat yang udah baca sampai selesai, dan mungkin dari kalian mau nambahin alasannya, mau kritik, atau kasih saran, monggo langsung corat-coret di kolom komentar. Sekian. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar