Sugeng Dalu! Sebelum membahas lebih lanjut tentang hal ini, penting untuk menyampaikan disclaimer:
• Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan keresahanku selama kuliah, dan hanya dilihat dari sudut pandang visual, karena:
1) Bucket dan snapgram kuwi barang sing ketok mripat.
2) Penulis adalah tipe orang yang suka di belakang panggung, dan bukan tipe yang mudah mengumbar afeksi.
• Tapi, tidak menutup kemungkinan kalian sangat boleh tidak setuju dengan tulisan ini, karena aku percaya kalian punya sudut pandang yang beda dan punya standar pertemanan tersendiri dalam hal ini (misal: kasih bucket bunga/snack kemasan tuh wajib, buat snapgram terus tag orangnya tuh wajib, dsb).
• Doi: hanya mempermudah dalam penyebutan untuk orang yang selesai seminar/sidang.
Melihat fenomena yang terjadi di lingkungan perkuliahan (yang sebentar lagi usai, dan semoga bisa kuliah lagi di jenjang yang berbeda), menurutku sekarang standar pertemanan tu harus banyak-banyak ngasih "sesajen" (kasih bucket bunga/snack kemasan ke doi, bikin snapgram foto bareng doi terus tag IGnya) buat perayaan tertentu, seperti perayaan atas berhasilnya melewati sempro, seminar kerja praktik, sidang pendadaran, dsb.
Tapi, bagaimana nasib orang-orang yang tidak melakukan hal-hal tersebut? Iki gur contoh: Apakah langsung dicap oleh sekelompok mahasiswa yang sudah membentuk sirkel sejak awal maba sebagai ansos/apatis? Apakah akan secara perlahan bahkan langsung dijauhi, ben dekne ora duwe konco? Nek gak nggae snapgram, berarti paitan sengit ki? Pada situasi seperti ini, tentu banyak memunculkan asumsi yang bisa dibilang minim kebenaran.
Kan di zaman sekarang, Instagram itu bisa diibaratkan sebuah KTP. "Eh instagrammu opo?" Pasti gitu kan kalau pas srawung? Nah, di dunia perkuliahan sudah pasti sudah saling follow kan. Karena sudah saling follow, orang-orang bisa dengan mudahnya memantau apa yang di-update di snapgram kancane. Bagi yang tidak melakukan hal tersebut mungkin tidak langsung terdeteksi, karena masih pada larut dalam euforia bikin snapgram. Kedeteksi paling nek pas podo nongkrong opo pas meh turu.
Tentu dalam hidup ini, setiap orang pasti punya alasan di setiap tindakan yang ia ambil, pasti punya pertimbangan untuk langkah yang ia pilih. Setiap orang berhak menentukan sebuah pilihan di hidupnya. Terlepas itu baik atau buruk, masing-masing kudu siap menerima konsekuensi dari pilihannya. Balik lagi ke keresahanku ya gais. Di situasi seperti ini, aku seperti tidak memiliki pilihan lain selain ikut-ikutan kasih sesajen. Namun, aku memilih untuk ndak kasih sesajen. Mengapa? Yo aku njuk tenangkan diri to, karena menurut buku oranye yang pernah aku baca (buku seni bodo amat itu), ndak memilih untuk kasih sesajen ke doi itu aja sudah sebuah pilihan. Mengapa aku berani ambil opsi itu? Gak wedi po nek diadohi ro konco-konco? Aku yakinkan diriku sendiri, aku udah siap sama konsekuensinya. Loss.
Pertanyaan "mengapa..." dan "gak wedi po..." sedikit demi sedikit terjawab seiring berjalannya waktu. Ini dia jawabannya:
1) Aku lebih memilih ngucapin langsung ke orangnya walaupun ndak bisa kasih apa-apa (mau ngasih kalau memang benar-benar dekat secara hubungan dan kalau ada uang). Kalau kebetulan nggak bisa ketemu langsung, bisa chat di dm/aplikasi chat. Karena, dipikiranku mungkin lebih berkualitas ngucapin secara personal daripada maksain beli bucket dan menye-menye di snapgram. Toh menurut penelitian yang pernah aku baca, kalau kita melakukan sesuatu yang beda dari yang lainnya, pasti alam bawah sadar doi akan lebih mudah untuk mengingatnya (penelitiane sopo e, rawaton koe ki wqwq). Mungkin belum terbukti untuk poin 1 ini, karena lagi on progress, dan urusan dirasani ning mburi kuwi wis mesti, pikirku.
Alhamdulillah, menurut hasil pantauanku, lingkunganku udah cukup dewasa dalam menyikapi situasi ini. Tetap mendapat respon yang baik saat misal aku butuh bantuan apa aja. Jadi gini gais, disclaimer kudunya ditambahin satu lagi. Jadi, di lingkunganku kuliah itu udah pada punya sirkel sendiri-sendiri, dan aku lebih memilih lepas tangan untuk gabung sirkel sirkel ngono kuwi, mergane aku ndak betah ngedrama. Wis loss jadi diri sendiri, dan jadi punya kebebasan mau temenan sama siapa aja.
2) Kalimat bagus yang aku dapat dari YouTube membuatku semakin yakin dengan pilihanku. Jadi, kurang lebih seperti ini bunyinya: "Semakin kita menunjukkan diri kita seperti apa, justru itu akan menjadi filter buat kita untuk tahu, at the end of the day nanti yang berteman sama kita memang orang-orang yang pengen berteman sama kita aja.
- Coki Pardede
Ya, dari bang Coki Pardede. Dan itu bener-bener aku rasain efeknya. Jadi bisa tau mana yang bener-bener pengen berteman, mana yang dateng pas butuh aja.
Kamu tonton pas sendiri ya, bagus banget perspektifnya.
Cukup sekian kecroh hari ini, semoga Corona gek ndang kukut dari dunia ini aamiin. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Sugeng Dalu!