Welcome


widgeo.net

Rabu, 11 November 2020

11.11 | Let me...

"Let me create my own happiness first. Once I've finished, I'll let you in cuz you're not responsible for my happiness and vice versa".

Satu kalimat di atas mengutip twit @/txtdariza pada 19 Oktober 2020 yang lalu. Tentunya, ini  relate dengan angan-anganku tentang masa depan, dan berharap bisa benar-benar terjadi. 

Perlu ditekankan nih pesan yang tersirat pada kalimat di atas, bahwa kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing, dan yang tak kalah penting adalah merujuk ke arah saling membahagiakan. Kalau gak "saling", ibarat sepeda yang roda depannya nggembos. Apakah menggenjot roda belakang 2-5 kali lebih kencang membuat sepeda bisa berjalan? Ya bisa sih.

Cuma, jalannya enak ga? Jarak pendek aja bikin capek kan? Belum lagi muncul resiko velg-nya peyok, duit bakal terbuang sia-sia kalo diterus-teruskan.

Minggu, 05 Juli 2020

Curcol berkedok cara kerja otak manusia.

Ini hanya uneg-uneg dan pemikiranku malam ini, jadi ya agak males juga buat kalimat basa-basi, dan mumpung sempat juga (karena akhir-akhir ini agak selo juga sih, soalnya baru aja aku setor draft laporan TA ke dosbing, semoga aja gaperlu revisi :) | Also me: sombong amat). Kali ini, aku pengen membahas tentang satu paragraf di halaman 137 dari buku oranye "Sebuah seni untuk bersikap bodo amat" nya Mark Manson yang menurutku menarik untuk dibahas. Aku ketik ulang aja deh. (Me: Kok buku kuwi meneh sing mbok bahas? | Also me: Dana nggo tuku buku anyar durung onok bosque)

"Pertumbuhan merupakan proses yang berulang yang tidak pernah berakhir. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, kita tidak beranjak dari "salah" menuju "benar". Namun, kita berangkat dari salah menuju sedikit salah. Dan ketika kita menambahkan sesuatu yang baru lagi, kita bergerak dari sedikit salah ke kesalahan yang lebih sedikit, dan kemudian kesalahan yang lebih sedikit lagi, dan seterusnya. Kita selalu dalam proses mendekati kebenaran dan kesempurnaan tanpa benar-benar dapat meraih kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri".

Nah, udah dibaca? Kalo belum nangkep maksudnya, boleh dibaca ulang. Kalo udah, lanjut ya. Jadi, pemikiran Mark Manson di atas mengingatkanku pada satu cerita pengantar sebelum praktikum mikrokontroler yang pernah disampaikan dosenku di semester 3 yang mana mata praktikum ini paling minim mendapat antusiasku (karena basisnya ngoding; kamu suka ngoding? Yaudah si nanya aja). Nah, dosenku ini sebelumnya udah paham kalo praktikum ini jarang ada yang suka di level "banget" (paham kan maksudku?), dan istilahnya beliau memberi sugesti kalo kalian (aku sama temen-temenku) mau belajar, pasti bakalan dipermudah. Terus cerita yang berhubungan dengan pernyataan Mark Manson tu gini kurang lebihnya:

"Cara kerja otak itu ada tahapannya, jadi dari posisi gak paham berpindah ke posisi paham itu ada tingkatannya. Tentu butuh waktu, butuh proses, nggak mungkin tiba-tiba langsung paham. Begitu juga dengan robot penjejak garis ini (sambil nampilin video robot bikinan beliau waktu kuliah ekstensi S1 di ITS; beliau juga alumni dari prodiku). IC (Integrated Circuit) di system minimum robot itu cara kerjanya hampir sama kayak otak manusia (wah kalo ada videonya, bisa lebih jelas deh apa yang aku maksud dari ini semua)".

Nyambung ya sama pernyataan Mark Manson tadi? Dari sini aku mulai menghargai setiap proses di semua aspek kehidupanku, termasuk pdkt lewat chat. Kalo kalian tau, sebenernya motivasi bikin curcolan ini tu gara-gara iseng aja scrolling history chat sama gebetan yang udah lumayan lama gak chattingan lagi (kepo ya siapa si doi? Clue: wanita cerdas). Setelah aku baca ulang, kok aku ngerasa ini apakah beneran aku? Kok ngisin-ngisini, sumpah cringe banget. Ya wis ngono lah, cringe banget, ra mashook.

Jujur, sampai detik ini sampai mbatin "kudune bubble iki mbok bales ngene!". Aku list ya: 
1) Kebanyakan nggak nyambungnya.
2) Masih suka judging.
3) Sotoy.
4) Tambahin lagi ya kalo kebetulan "kamu" baca ini. 

Cringe banget gak tuh. Mindset yg terpasang saat itu adalah karena anggepan "she is the one" (kebanyakan pria, nggak semuanya). Mindset tersebut ketika dihadapkan dengan kondisi nyata di lapangan (pas chatting) tentu membuat pria takut salah ucap, takut membuat doi tersinggung, dan takut-takut lainnya. Ya wajar lah wanita jadi males chatting, karena wanita cerdas hanya tertarik pada pria yang pede dan "berbeda". 

Takut-takut yang kusebutin di atas tentu saja jadi pembunuh ketertarikan, dan teorinya nih ya, harusnya yang namanya pdkt kan harusnya so fun santuy. Setuju?

Sebenernya ada beberapa gebetan, cuma hanya beberapa yang "mashook". Semua ini benar adanya, namun bukan berarti keadaan nggak bisa diubah. Intinya apa? Intinya aku mau bilang "kamu" hebat, karena kamu sudah terpilih jadi perantara proses aktualisasi diriku, yang diutus langsung dari sing nggawe urip. Tanpa kode-kode "stop" darimu, aku nggak akan belajar. Belajar apa? Belajar untuk mbuh pie carane ben gak keno syndrome she is the one kuwi mau. Carane? Yo mbuh pie carane keluar dari zona nyaman dengan melu komunitas/kelas apa aja, dan tentunya secara otomatis jumlah gebetan nambah dong. Tinggal tunggu waktu yang tepat aja. Semua ini balik lagi ke diri sendiri, tinggal mau "jemput bola" atau nggak. Nunggu dijemput yo ra bakal maju-maju slurr. Bye.

Your current situation is not your final destination

Kata mbak Tara Basro, coba di gugel translet.


Jadi, menurutku pencapaian-pencapaian di semua aspek kehidupan ini bukanlah perlombaan. Satu-satunya perlombaan yang ada adalah Fastabiqul Khoirot.

Minggu, 21 Juni 2020

Sing Sabar

Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar; Sing sabar.

Kamis, 30 April 2020

Rabu, 22 April 2020

Apakah Standar Pertemanan Saat Ini Ditentukan oleh Pemberian "Sesajen" Selesai Sidang Seminar dan Pendadaran? Sedangkal itu kah?

Sugeng Dalu! Sebelum membahas lebih lanjut tentang hal ini, penting untuk menyampaikan disclaimer

• Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan keresahanku selama kuliah, dan hanya dilihat dari sudut pandang visual, karena:
1) Bucket dan snapgram kuwi barang sing ketok mripat.
2) Penulis adalah tipe orang yang suka di belakang panggung, dan bukan tipe yang mudah mengumbar afeksi.

• Tapi, tidak menutup kemungkinan kalian sangat boleh tidak setuju dengan tulisan ini, karena aku percaya kalian punya sudut pandang yang beda dan punya standar pertemanan tersendiri dalam hal ini (misal: kasih bucket bunga/snack kemasan tuh wajib, buat snapgram terus tag orangnya tuh wajib, dsb).

• Doi: hanya mempermudah dalam penyebutan untuk orang yang selesai seminar/sidang.

  Melihat fenomena yang terjadi di lingkungan perkuliahan (yang sebentar lagi usai, dan semoga bisa kuliah lagi di jenjang yang berbeda), menurutku sekarang standar pertemanan tu harus banyak-banyak ngasih "sesajen" (kasih bucket bunga/snack kemasan ke doi, bikin snapgram foto bareng doi terus tag IGnya) buat perayaan tertentu, seperti perayaan atas berhasilnya melewati sempro, seminar kerja praktik, sidang pendadaran, dsb.

  Tapi, bagaimana nasib orang-orang yang tidak melakukan hal-hal tersebut? Iki gur contoh: Apakah langsung dicap oleh sekelompok mahasiswa yang sudah membentuk sirkel sejak awal maba sebagai ansos/apatis? Apakah akan secara perlahan bahkan langsung dijauhi, ben dekne ora duwe konco? Nek gak nggae snapgram, berarti paitan sengit ki? Pada situasi seperti ini, tentu banyak memunculkan asumsi yang bisa dibilang minim kebenaran.

Kan di zaman sekarang, Instagram itu bisa diibaratkan sebuah KTP. "Eh instagrammu opo?" Pasti gitu kan kalau pas srawung? Nah, di dunia perkuliahan sudah pasti sudah saling follow kan. Karena sudah saling follow, orang-orang bisa dengan mudahnya memantau apa yang di-update di snapgram kancane. Bagi yang tidak melakukan hal tersebut mungkin tidak langsung terdeteksi, karena masih pada larut dalam euforia bikin snapgram. Kedeteksi paling nek pas podo nongkrong opo pas meh turu.

Tentu dalam hidup ini, setiap orang pasti punya alasan di setiap tindakan yang ia ambil, pasti punya pertimbangan untuk langkah yang ia pilih. Setiap orang berhak menentukan sebuah pilihan di hidupnya. Terlepas itu baik atau buruk, masing-masing kudu siap menerima konsekuensi dari pilihannya. Balik lagi ke keresahanku ya gais. Di situasi seperti ini, aku seperti tidak memiliki pilihan lain selain ikut-ikutan kasih sesajen. Namun, aku memilih untuk ndak kasih sesajen. Mengapa? Yo aku njuk tenangkan diri to, karena menurut buku oranye yang pernah aku baca (buku seni bodo amat itu), ndak memilih untuk kasih sesajen ke doi itu aja sudah sebuah pilihan. Mengapa aku berani ambil opsi itu? Gak wedi po nek diadohi ro konco-konco? Aku yakinkan diriku sendiri, aku udah siap sama konsekuensinya. Loss.

Pertanyaan "mengapa..." dan "gak wedi po..." sedikit demi sedikit terjawab seiring berjalannya waktu. Ini dia jawabannya:

1) Aku lebih memilih ngucapin langsung ke orangnya walaupun ndak bisa kasih apa-apa (mau ngasih kalau memang benar-benar dekat secara hubungan dan kalau ada uang). Kalau kebetulan nggak bisa ketemu langsung, bisa chat di dm/aplikasi chat. Karena, dipikiranku mungkin lebih berkualitas ngucapin secara personal daripada maksain beli bucket dan menye-menye di snapgram. Toh menurut penelitian yang pernah aku baca, kalau kita melakukan sesuatu yang beda dari yang lainnya, pasti alam bawah sadar doi akan lebih mudah untuk mengingatnya (penelitiane sopo e, rawaton koe ki wqwq). Mungkin belum terbukti untuk poin 1 ini, karena lagi on progress, dan urusan dirasani ning mburi kuwi wis mesti, pikirku. 

Alhamdulillah, menurut hasil pantauanku, lingkunganku udah cukup dewasa dalam menyikapi situasi ini. Tetap mendapat respon yang baik saat misal aku butuh bantuan apa aja. Jadi gini gais, disclaimer kudunya ditambahin satu lagi. Jadi, di lingkunganku kuliah itu udah pada punya sirkel sendiri-sendiri, dan aku lebih memilih lepas tangan untuk gabung sirkel sirkel ngono kuwi, mergane aku ndak betah ngedrama. Wis loss jadi diri sendiri, dan jadi punya kebebasan mau temenan sama siapa aja.

2) Kalimat bagus yang aku dapat dari YouTube membuatku semakin yakin dengan pilihanku. Jadi, kurang lebih seperti ini bunyinya: "Semakin kita menunjukkan diri kita seperti apa, justru itu akan menjadi filter buat kita untuk tahu, at the end of the day nanti yang berteman sama kita memang orang-orang yang pengen berteman sama kita aja.

- Coki Pardede

Ya, dari bang Coki Pardede. Dan itu bener-bener aku rasain efeknya. Jadi bisa tau mana yang bener-bener pengen berteman, mana yang dateng pas butuh aja.

Ini ya gais linknya: https://youtu.be/7z4Y7eTa_eY
Kamu tonton pas sendiri ya, bagus banget perspektifnya.

Cukup sekian kecroh hari ini, semoga Corona gek ndang kukut dari dunia ini aamiin. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Sugeng Dalu!

Selasa, 07 Januari 2020

Ohh Begini Rasanya

Ohh, begini ya rasanya ngobrol sama orang yang pas ngobrol malah kurang nyambung. Kayak langsung ilfeel gitu ya? Mau njelasin dari awal udah telanjur kezel dan nguras tenaga. Diemin aja udah.