Ini hanya uneg-uneg dan pemikiranku malam ini, jadi ya agak males juga buat kalimat basa-basi, dan mumpung sempat juga (karena akhir-akhir ini agak selo juga sih, soalnya baru aja aku setor draft laporan TA ke dosbing, semoga aja gaperlu revisi :) | Also me: sombong amat). Kali ini, aku pengen membahas tentang satu paragraf di halaman 137 dari buku oranye "Sebuah seni untuk bersikap bodo amat" nya Mark Manson yang menurutku menarik untuk dibahas. Aku ketik ulang aja deh. (Me: Kok buku kuwi meneh sing mbok bahas? | Also me: Dana nggo tuku buku anyar durung onok bosque)
"Pertumbuhan merupakan proses yang berulang yang tidak pernah berakhir. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, kita tidak beranjak dari "salah" menuju "benar". Namun, kita berangkat dari salah menuju sedikit salah. Dan ketika kita menambahkan sesuatu yang baru lagi, kita bergerak dari sedikit salah ke kesalahan yang lebih sedikit, dan kemudian kesalahan yang lebih sedikit lagi, dan seterusnya. Kita selalu dalam proses mendekati kebenaran dan kesempurnaan tanpa benar-benar dapat meraih kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri".
Nah, udah dibaca? Kalo belum nangkep maksudnya, boleh dibaca ulang. Kalo udah, lanjut ya. Jadi, pemikiran Mark Manson di atas mengingatkanku pada satu cerita pengantar sebelum praktikum mikrokontroler yang pernah disampaikan dosenku di semester 3 yang mana mata praktikum ini paling minim mendapat antusiasku (karena basisnya ngoding; kamu suka ngoding? Yaudah si nanya aja). Nah, dosenku ini sebelumnya udah paham kalo praktikum ini jarang ada yang suka di level "banget" (paham kan maksudku?), dan istilahnya beliau memberi sugesti kalo kalian (aku sama temen-temenku) mau belajar, pasti bakalan dipermudah. Terus cerita yang berhubungan dengan pernyataan Mark Manson tu gini kurang lebihnya:
"Cara kerja otak itu ada tahapannya, jadi dari posisi gak paham berpindah ke posisi paham itu ada tingkatannya. Tentu butuh waktu, butuh proses, nggak mungkin tiba-tiba langsung paham. Begitu juga dengan robot penjejak garis ini (sambil nampilin video robot bikinan beliau waktu kuliah ekstensi S1 di ITS; beliau juga alumni dari prodiku). IC (Integrated Circuit) di system minimum robot itu cara kerjanya hampir sama kayak otak manusia (wah kalo ada videonya, bisa lebih jelas deh apa yang aku maksud dari ini semua)".
Nyambung ya sama pernyataan Mark Manson tadi? Dari sini aku mulai menghargai setiap proses di semua aspek kehidupanku, termasuk pdkt lewat chat. Kalo kalian tau, sebenernya motivasi bikin curcolan ini tu gara-gara iseng aja scrolling history chat sama gebetan yang udah lumayan lama gak chattingan lagi (kepo ya siapa si doi? Clue: wanita cerdas). Setelah aku baca ulang, kok aku ngerasa ini apakah beneran aku? Kok ngisin-ngisini, sumpah cringe banget. Ya wis ngono lah, cringe banget, ra mashook.
Jujur, sampai detik ini sampai mbatin "kudune bubble iki mbok bales ngene!". Aku list ya:
1) Kebanyakan nggak nyambungnya.
2) Masih suka judging.
3) Sotoy.
4) Tambahin lagi ya kalo kebetulan "kamu" baca ini.
Cringe banget gak tuh. Mindset yg terpasang saat itu adalah karena anggepan "she is the one" (kebanyakan pria, nggak semuanya). Mindset tersebut ketika dihadapkan dengan kondisi nyata di lapangan (pas chatting) tentu membuat pria takut salah ucap, takut membuat doi tersinggung, dan takut-takut lainnya. Ya wajar lah wanita jadi males chatting, karena wanita cerdas hanya tertarik pada pria yang pede dan "berbeda".
Takut-takut yang kusebutin di atas tentu saja jadi pembunuh ketertarikan, dan teorinya nih ya, harusnya yang namanya pdkt kan harusnya so fun santuy. Setuju?
Sebenernya ada beberapa gebetan, cuma hanya beberapa yang "mashook". Semua ini benar adanya, namun bukan berarti keadaan nggak bisa diubah. Intinya apa? Intinya aku mau bilang "kamu" hebat, karena kamu sudah terpilih jadi perantara proses aktualisasi diriku, yang diutus langsung dari sing nggawe urip. Tanpa kode-kode "stop" darimu, aku nggak akan belajar. Belajar apa? Belajar untuk mbuh pie carane ben gak keno syndrome she is the one kuwi mau. Carane? Yo mbuh pie carane keluar dari zona nyaman dengan melu komunitas/kelas apa aja, dan tentunya secara otomatis jumlah gebetan nambah dong. Tinggal tunggu waktu yang tepat aja. Semua ini balik lagi ke diri sendiri, tinggal mau "jemput bola" atau nggak. Nunggu dijemput yo ra bakal maju-maju slurr. Bye.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar